fbpx

Pretes?”

“Aku udah lama nggak belajar.”

“Aku nggak bisa matematika.”

“Kok ada belajarnya sih, Ustazah?”

Begitulah beberapa bentuk keterkejutan santri ketika guru mengumumkan bahwa akan diadakan pretes untuk  mata pelajaran tertentu. Sang guru pun berusaha menenangkan mereka dengan meluncurkan pernyataan sakti, “Nilai pretes tidak akan dimasukkan ke rapor”, keriuhan seketika reda.  Para santri tenang kembali. Begitulah suasana kelas 7C pada suatu pagi. Keadaan kelas 7C pada pagi itu sebenarnya mencerminkan keadaan kelas-kelas lainnya ketika akan menghadapi pretes.

Tak perlu heran mengapa mereka kaget, bertanya-tanya, atau tidak menerima adanya pretes tersebut. Sebab bila merujuk pada judul kegiatan yang diusung, Quranic Character Camp (QCC), tentu kegiatan akan diisi dengan menghapal Quran serta kegiatan keagaamaan lainnya, atau dengan kata lain kegiatan kepesantrenan. Namun rancangannya, pada QCC kurikulum kepesantrenan bersanding dengan kurikulum akademik.

Kembali ke persoalan pretes. Pada jenjang SMP, pretes diadakan untuk mengukur kemampuan santri pada mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Sementara itu di jenjang SMA, pretes diadakan untuk mata pelajaran yang di UN-kan. Terdiri dari matematika, bahasa Inggris, biologi, fisika, dan kimia. Hasil pretes akan dijadikan acuan oleh guru mata pelajaran dalam melaksanakan program matrikulasi. Berdasarkan hasil pretes, siswa akan diberi penguatan materi sesuai kebutuhan mereka. Pelaksanaan matrikulasi ini diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami materi-materi dasar sehingga tidak tertinggal dibandingkan santri lain ketika mengikuti proses kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya setelah kembali ke NFBS Bogor.

Ustazah Annisa Hafitasari, guru matematika SMP, mengungkapkan bahwa pengadaan pretes, terutama matematika dapat mengukur kemampuan awal siswa. Berdasarkan hasil pretes pada mata pelajaran matematika, 60 % siswa tidak membutuhkan bimbingan, sehingga mereka hanya diberi soal-soal pengayaan. Sementara itu sisanya masih perlu dibimbing terutama pada materi operasi bilangan positif dan negatif. Ketika ditanya mengenai antusiasme siswa ketika matrikulasi, Ustazah Annisa menilai siswa kelas 7 yang diajarnya antusias selama mengikuti matrikulasi terutama ketika materi pembelajaran disajikan dalam bentuk permainan dan diadakan di luar kelas.

Berbeda dengan Pradya Faizatuzihan Azkia, santri kelas XI IPA 2 ini tidak menyangka bahwa pada QCC tahun ini diadakan matrikulasi beberapa mata pelajaran. Menurutnya, hal ini berbeda dengan QCC sebelumnya yang memfokuskan pada menghapal Quran saja. Gadis yang akrab disapa Oji menilai, bahwa dengan adanya program matrikulasi, QCC tak ubahnya seperti sekolah biasa hanya berbeda lokasi. Akhirnya target menghapal Quran dalam jumlah tertentu tidak terpenuhi.

Menanggapi hal tersebut, Ustad Hapid, kepala kepesantrenan NFBS Bogor, menjelaskan bahwa sebenarnya dari awal QCC ke dua ini dirancang, pengadaan program matrikulasi sudah direncanakan. Porsi waktu untuk pembelajaran umum dengan quran sudah dirancang sedemikian rupa oleh tim kurikulum. Sehingga Quran, akademik, dan bahasa Inggris memperoleh alokasi waktu yang adil. Kehadiran matrikulasi tidak akan mengurangi esensi kegiatan QCC, lanjutnya. Ia berharap, kehadiran matrikulasi dapat mengubah mindset santri bahwa sesungguhnya quranic character bukanlah perkara membaca Quran dan salat saja, tetapi juga ulul albab—orang berakal atau orang yang berfikir. Melalui matrikulasi, terutama mata pelajaran sains, santri dapat mememukan kebesaran Allah sehingga nilai-nilai keislaman dalam diri mereka semakin kuat. Bukankah salah satu misi hidup manusia di muka bumi adalah beribadah. Dan belajar merupakan ibadah, bukan?

Realisasi program-program QCC telah menunjukkan komitmen NFBS Bogor sebagai lembaga pendidikan Islam modern yang bertujuan membentuk santri menjadi pemimpin diri serta pemimpin umat dengan penguasan ilmu agama dan ilmu umum yang sejalan. (Rahmi Septiari).

Leave a Reply