Menumbuhkan Benih Harapan Menyemai Kesyukuran

By January 22, 2021Artikel

Barrack Obama, Presiden AS yang ke 44, pada tahun 2008 memiliki jargon hebat dalam kampanyenya, “Hope” (harapan) menjadi satu kata yang ketika orang ucapkan, maka akan merujuk pada Obama. Ini sekaligus mengingatkan bahwa wakilnya saat itu, Joe Biden, tak dinyana akhirnya sekarang terpilih secara resmi sebagai presiden AS saat ini. Obama adalah kandidat dari Partai Demokrat pertama yang memenangkan mayoritas suara populer sejak Jimmy Carter pada 1976. Berhasil mendapatkan suara populer 69,5 juta yang juga merupakan jumlah terbesar yang pernah dimenangkan oleh seorang calon presiden sebelumnya.

Seperti pada pidato kemenangannya yang perdana,

“Jalan di depan akan panjang. Pendakian kita akan terjal. Kami mungkin tidak sampai di sana dalam satu tahun atau bahkan dalam satu periode. Tapi, Amerika, saya tidak pernah lebih berharap dari ini. Malam ini kita akan sampai di sana”.

Ya, harapan tentang kesempatan, tidak peduli berbagai suku/agama/ras dan peluang kesetaraan yang sama menjadi keinginan sebagian besar warga AS.

Harapan ini juga kurang lebih sama seperti yang kita rasakan, setelah sekian ratus tahun penjajahan,  maka sebakda 17 Agustus 1945 yang lalu, kita lalu jadi berani untuk bermimpi lebih besar membangun negeri ini dengan sepenuh gagasan dan kemajuan. Adanya proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat saat itu, menjadi saksi sekaligus harapan-harapan baru dari jutaan rakyat Indonesia untuk membangun negerinya dimasa depan.

Bapak Dahlan Iskan, Menteri BUMN tahun 2009 – 2014 membuat series tulisan dengan judul “Manufacturing Hope” yang berisi kumpulan kisah beliau dalam menjalankan tugasnya sebagai menteri. Melalui kumpulan essay manufacturing hope ini, Pak DI menuliskan solusi penyikapan kenaikan BBM, strategi dan langkah agar produksi dalam negeri bisa ditambah, sekaligus pembangunan infrastruktur yang tidak dibiayai oleh APBN. Banyak torehan prestasi semasa beliau memimpin Jawa Pos dan PLN. Kita membaca, semakin tingginya harapan, akan ada banyak hal besar didepan sana.

Salah satu kalimat inspiratif beliau “menularkan pesimisme cuma perlu modal gombal, tapi membangun harapan harus dengan kerja keras dan hasil nyata”. Sekali lagi, harapan tentang keberhasilan bisa dipantik dengan kerja extra dan impactnya bisa dirasakan.

Dalam tangis kencang bayi yang baru saja lahir, disana juga ada harapan tentang kebahagiaan kehidupan baru yang mendewasa dimasa depan. Bahkan dalam gelap pekatnya malam, terselip harapan pada mentari yang cerah akan muncul pada pagi harinya. Begitulah, singkatnya harapan selalu datang beriringan dengan nestapa kehidupan.

Indonesia saat ini “digebug” dengan berbagai musibah, mulai dari grafik wabah covid19 yang urung belum terlihat melandai (apalagi menurun), diawal Januari 2021 ini masih ditambah dengan musibah Sriwijaya Air, banjir besar di Kalimantan Selatan, longsor terjadi di Sumedang, gempa bumi di Sulawesi Barat dan sejumlah gunung berapi aktif memberi tanda-tanda akan adanya bahaya. Rasa-rasanya “gelap” ini makin nampak pekat, sehingga cahaya hampir tak terlihat.

Dari berbagai banyak musibah itu, Kita meyakini selalu ada “harapan” disini. Jika kita tak punya harapan akan pulihnya negeri ini, justru disitulah letak masalahnya.

Musibah sebagai medium manifestasi kesyukuran ?

Mengutip dari Pak Reza A.A Wattimena, seorang Doktor filsafat alumni Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman dalam tulisannya yang berjudul “Batu yang Dilempar Pasti Kembali ke Tanah”, bahwa rasa sakit atau penderitaan yang hadir karena jatuh adalah pintu masuk untuk kesadaran. Dalam bahasanya, derita akan membangunkan dari tidur yang membuat kita terlenakan.

Tentu saja kita patut bersedih hati, prihatin sekaligus menyampaikan duka cita yang mendalam bagi segenap korban musibah tersebut. Namun pada sudut pandang yang lebih mendalam, dalam rangka merubah perspektif kita tentang musibah yang datang bertubi-tubi ini, mata kita seperti terbelalak setelah tidur panjang yang melenakan.

Hari-hari ini kita menjadi lebih waspada, tidak hanya sekedar antisipatif terhadap apa-apa yang (mungkin) terjadi berikutnya terhadap kita. Namun juga lebih mawas dan mengoreksi diri, dibagian mana yang kemarin sudah kita lakukan namun Tuhan dan alam tidak ridho kepada kita.

Ibaratnya, musibah ini kita anggap sebagai momentum yang membangunkan tidur panjang kita, maka jadikan dengan sepenuh hikmah bahwa ternyata karunia Tuhan yang sedemikian banyak selama ini melalui alam raya dan kekayaan nusantara, barangkali ada yang kita abaikan, dan bisa jadi kita belum (pandai) bersyukur karena diantaranya kita belum terampil merawatnya dengan bijak dan maslahat.

Setelahnya, pandemi panjang yang sedang kita lalui hampir setahun ini, kita dilatih dengan keprihatinan dan kesetiakawanan, maka fase berikutnya empati dan kepedulian sosial kita semestinya makin terlatih sehingga kita makin peduli, akhirnya kita berharap jadi semakin bijak dan mendewasa.

Terakhir, lirik lagu Ebiet G Ade, “Berita kepada kawan” saya coba kutipkan penggalan satu baitnya.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Semoga dapat menjadi renungan yang baik, dan teman karib untuk senantiasa bercermin memperbaiki diri.

 

Penulis : Dedy Setyo Afrianto (Pengajar, Pendidik, Peneliti dan Pegiat teknologi khususnya dalam bidang Cloud Computing, media pendidikan spesialisasi media digital, e-learning dan Open Source untuk pendidikan. Aktivitas sehari-hari mengajar ICT, narasumber media pembelajaran dan perancangan IT Integrated System di lembaga pendidikan)

(Sumber : http://dedysetyo.net/2021/01/21/menumbuhkan-benih-harapan-menyemai-kesyukuran/)

Leave a Reply