Artikel

Merangkai Masa Depan Siswa Menuju Generasi Patriotik yang Religius dan Gemar Kerjasama

By November 26, 2018 No Comments

Pendahuluan

Setiap individu adalah pemimpin. Tak lepas orang dewasa maupun anak-anak. Tak terkecuali pemimpin pemerintahan, pemimpin organisasi, berbagai fungsi sosisl hingga sebagai orang tua, guru maupun sebagai anak. Hal ini berdasarkan Firman Alah swt dalam QS Al Baqarah ayat 30 yang artinya :

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al Baqarah: 30)

Dikuatkan dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya.”

Sebagai pemimpin, tentunya berbagai tanggung jawab dan wewenang melekat sesuai dengan fungsi kepemimpinannya.

Rumah dan sekolah atau pun di lembaga-lembaga formal menjadi salah satu pemikul amanah pembentukan pribadi pemimpin yang paripurna. Baik jasmani, ruhani dan akalnya. Tiga dimensi minimal yang akan terus perkembang sebagai halnya organisme.

Modal utama adalah kedekatan dengan penciptanya. Apa pun kiprah yang diambil, kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya adalah prioritas utama dan pertama. Degradasi moral pada anak muda saat ini, menjadi indikator turunnya kedekatan dengan Sang Khalik. Rasa diawasi oleh Allah swt. Kedekatan dengan –Nya belum terinternalisasikan. Jika galau dengan masalah yang dihadapi lebih senang sharing di media sosial, meet-up dengan rekan dunia maya atau dengan mudahnya menyalahkan pihak lain.

Kerjasama, merupakan salah satu nilai yang mulai surut di Indonesia secara umum,  khususnya di kota besar tak terkecuali kabupaten Bogor. Gotong royong, siskamling, musyawarah yang menjadi bagian dari kerja sama dalam bermasyarakat sulit ditemui. Bahkan kosa kata tersebut menjadi salah satu kosakata sulit yang harus dicari dulu di dalam kamus arti dan maknanya.

Generasi Patriotik, menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersifat cinta tanah air. Diharapkan muncul juga pada generasi mendatang, yang secara historis terpaut 72 tahun dengan upaya mendapatkan kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945). Semakin jauh jarak yang terbentuk, bias pun semakin besar. Tampak dalam bersosialisasi nilai-nilai nasionalisme menurun, lebih senang menggunakan produk luar negeri ketimbang produk dalam negeri. Lebih bangga pamer foto travelling ke Negara jiran ketimbang ke lokasi wisata domestik, menjadi perhatian yang meimbulkan keprihatinan bagi generasi sebelumnya.

Langkah kecil untuk mengembalikan religius, jiwa patriotik dan kebutuhan bekerjasama adalah melalui role model di rumah, di sekolah dan di masyarakat. Lebih detailnya lagi dituangkan dalam kurikulum pembelajaran, dalam rencana-rencana pembelajaran.

 

Pembahasan

Menebar benih pemimpin masa depan yang berjiwa patriotik, religius dan gemar bekerja sama, salah satunya dalam pembinaan olipiade Matematika.

Mendengar kata “olimpiade”, secara umum menggambarkan setinggi apa tingkat kecerdasan siswanya. Walaupun tidak mesti seperti itu, sangat memungkinkan bagi siswa yang ‘biasa-biasa saja” menjadi pesertanya dan mendapatkan hasil yang gemilang, tentunya berbanding dengan usaha yang dilakukan oleh siswa tersebut.

Pembinaan Olimpiade Matematika tidak hanya mengisi akal siswa dengan kecerdasan bernalar tetapi juga diimbangi dengan kekayaan ruh dengan merencanakan kesusahan. Mengacu kepada landasan filososfis yang difirmankan Allah swt. Dalam QS Al Insyirah 94: 5-6:

“karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama  kesulitan ada kemudahan

Bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, itu adalah janji Allah swt. Dan Allah adalah Maha Menepati Janji. Sehingga guru dan siswa perlu merencanakan kesusahan, agar kemudahana mendatangi. Analoginya, jika kesenangan dulu yang didapat kemungkinan akan ada kesulitan yang menghampiri. Dalam hal ini berlaku juga hukum kebalikan secara alami. Rencana kesulitan yang dilakukan siswa dan guru tentunya dalam ranah yang positif, dalam rangka mendekatkan diri pada Allah swt., membina hubungan baik juga dengan sesama manusia.

Langkah-langkah yang simultan dilakukan dalam pembinaan olimpiade Matematika adalah meningkatkan kedekatan siswa dengan Allah swt. Melalui pengamalan tujuh sunnah Nabi saw. Latihan yang terjadwal dan teratur, dalam latihan dilakukan secara bekerjasama memecahkan masalah dan secara individu dengan rasio 3:1.

Firman Allah swt. Yang artinya sebagai berikut :

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau memperskutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’” [Luqman: 13]
menjadi landasan penananaman akidah bagi para siswa yang mendapat pembinaan olimpiade Matematika. Akidah merupakan parameter yang abstrak, sehingga dikonkritkan dengan pelaksanaan tujuh sunnah secara konsisten, yang terevaluasi melalui anecdotal record yang diparaf oleh orang tua dan guru sebagai bentuk validasinya. Melaksanakan tujuh sunnah secara konsisten adalah bagian dari merencanakan kesulitan.

Ketika mampu lelap tidur, kesenangan itu digantikan dengan kesulitan terencana yaitu salat tahajud. Ketika mampu membeli jajanan dan barang kesukaan, menggantinya dengan kesulitan, membelanjakannya di jalan Allah alias bersedekah. Ketika mampu bersantai di waktu istirahat, menggantikannya dengan salat duha. Ketika mampu menyelesaikan pekerjaan sendiri dan lebih cepat, menggantinya dengan mengerjakan secara berjamaah yang tentunya membutuhkan waktu lebih lama, membutuhkan kelapangan hati namun juga menyamakan kefahaman.

Tujuh sunnah yang diharapkan dilakukan oleh siswa dan guru secara konsisten berasakan hadist RAsulullah saw. berikut

Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun,” (HR Ibnu Majah: 209).

Tujuh sunnah itu adalah sebagai berikut :

  1. Menjaga wudhu : Wudhu merupakan upaya menyucikan diri dari hadats kecil. Menjalin kedekatan dengan Allah swt dan meraih kasih sayangnya salah satunya dengan berwudhu. Khalifah Ali bin Abu Thalib menyampaikan : “ Orang yang senantiasa dalam keadaan berwudhu ia akan merasa selalu salat walau ia sedang tidak salat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosanya dan sayangi dia Yaa Allah “.
  2. Senantiasa beristighfar: Istighfar adalah memohon keampunan dari Allah swt atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan dan berjanji kepada Allah tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Allah swt berfirman : “ Dan Allah tidak akan sekali-kali akan menyiksa mereka, sedang engkau (wahai Muhammad) ada diantara mereka, dan Allah tidak akan menyiksa mereka yang sedang beristighfar (meminta ampun) “. QS.Al-Anfal : 33
  3.  Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari (dalam pembinaan biasanya diupayakan setelah salat subuh, jika belum memungkinkan di waktu yang lain. Minimal sehari ada interaksi dengan AlQuran): Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu sunnah Rasulullah, terutama membaca Al-Qur’an pada waktu sebelum terbitnya matahari. Besar pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an dan memahami isinya. Awalnya menjadikan ALquran untuk dibaca saja, bertilawah. Jadikanselanjutnya menjadikan  Al-Qur’an sebagai bacaan, panduan, dan sumber hokum yang utama. Allah swt berfirman : “ Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kejalan yang amat benar (agama islam), dan memberikan berita yang menggemberikan orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal-amal soleh, bahwa mereka memperoleh pahala yang besar. (QS.Al-Isra : 9)
  4. Salat berjamaah di masjid : terutama buat yang laki-laki. Yang wanita diutamakan salat jamaahnya, walaupun tidak di masjid. Salat yang lebih baik adalah salat berjamaah di masjid, karena pahala yang salat berjamaah di masjid sangat besar dan pahalanya dihitung pada setiap langkahnya ke masjid dan ia juga akan memperoleh pahala berjamaah sebanyak 27 pahala. Nabi Muhammad saw bersabda : “ Sungguh, alangkah ingin aku menyuruh (para sahabat) melakukan salat, dan aku suruh seseorang untuk mengimaninya, kemudian pergi bersama beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu api menuju rumah orang-orang yang tidak ikut shalat berjamaah, untu membakar rumah mereka dengan api “.
  5. Melakukan salat duha : Salat sunnah duha adalah shalat yang sangat dianjurkan oerh Rasulullah saw kepada umatnya, karena salat duha ini banyak kelebihannya. Diantara kelebihannya adalah pintu rezeki dubuka dan dimurahkan rezeki. Rasulullah saw pernah bersabda : “ Pada tiap-tiap pagi biasakanlah atas tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah, tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh berbuat baik satu sedekah, dan cukuplah sebagai ganti yang demikian itu dengan mengerjakan dua rakaat salat duha. (HR.Bukhari dan Muslim)
  6. Salat tahajud : Salat tahajud adalah salat waktu malam, setelah tidur. Sebaik-baiknya 1/3 malam yang terakhir. Jumlah rakaat sekurang-kurangnya 2 rakaat. Diantara keutamaannya : Mendapat perlindungan Allah, disayangi oleh ahli ibadah dan mukmin, kalimat-kalimatnya menjadi hikmah dan bijaksana, dimudahkan hisabnya, mendapat catatan amal dari tangan kanan. Allah swt berfirman “ Dan bangunlah pada sebagian dari waktu malam serta kerjakanlah shalat tahajjud padanya, sebagai shalat tambahan bagimu. Semoga tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat yang terpuji. (QS.Al-Isra : 79)
  7. Membiasakah bersedekah : Sedekah adalah seseorang itu mengorbankan sedikit hartanya untuk diberikan kepada orang yang memerlukan dengan hati dan perasaan yang ikhlas karena Allah. Bagi yang rajin bersedekah, Allah akan gandakan setiap sedekahnya dengan rezeki yang melimpah. Allah swt berfirman : “ Dan jangan sekali-kali orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karuniaNya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan dilehernya pada hari kiamat . Milik Allah apa yang ada di langit dan dibumi. Allah maha teliti atas apa yang kamu kerjakan “. (QS.Ali Imran : 180)

Mengasah sisi ruhani secara simultan juga dengan asah akalnya, melalui transfer materi Olimpiade Matematika. Yang diselesaikan secara individu dan berkelompok.

Menyelesaikan soal-soal dalam kelompok bukan tanpa hambatan, ada saja individu yang mengandalkan rekannya, ada pula yang pilih-pilih soal, mau mengerjakan yang mudahnya saja, dan masalah lainnya dalam dinamika kelompok. Tentunya, kembali pada merencanakan kesulitan. Bekerja dalam kelompok, dengan dinamikanya dalah bagian dari hal tersebut. Senantiasa berpikir positif tentang seluruh anggota kelompok bahkan anggota lain di luar kelompok juga merupakan bagian tak terpisahkan. Dalam pembinaan Olimpiade Matematika, kemenangan atau mendapat medali bukan menjadi tujuan utama, hal tersebut adalah dampak dari upaya yang dilakukan. Memandang rival adalah saudara yang menjadi wadah mendapat kebaikan. Apa pun bentuknya dilihat hikmah yang bisa diambil. Apalagi jika rival adalah rekan senegara, sama-sama Indonesia. Bukanlah rival namun partner. Berbagi ilmu adalah keharusan, yang lebih pintar mengajari yang belum bisa. Yang belum bisa tidak sungkan bertanya.

Teknis dalam setiap latihan olimpiade terbagi menjadi 15 menit pertama menyelesaikan soal eksplorasi yang berisi Sudoku, pentomino, kakoru, ken-ken, tekateki angka, map, dan sejenisnya. Dilanjutkan 45 menit berikutnya membahas soal olimpiade. Seluruh kegiatan dilakukan secara berkelompok. 60 menit kedua pembahasan, setiap kelompok memberikan pembahasan terhadap soal yang dilihnya. Kelompok lain berhak menanggapai atau memperkaya jika mendapa solusi yang berbeda. Diskusi penyelesaian masalah difasilitasi oleh guru atau nara sumber yang lain.

Jiwa patriotik, membawa nama baik bangsa Indonesia bagi peserta olimpiade Matematika adalah harga mutlak, jaket merah putih atau kaos merah putih sebagai simbol akan senantiasa dikenakan dalam berbagai momentum yang beririsan dengan Negara lain. Menjaga ketertiban pribadi maupun umum didasarkan juga kepada menjaga nama baik bangsa. Upaya yang keras sehingga akhirnya mendapatkan medali terbaik, salah satunya adalah persembahan untuk Negara yang dicintai. Adalah sebuah kebanggan jika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di antara kibaran sang Merah Putih.

Hiduplah tanahku,Hiduplah negeriku,
Bangsaku rakyatku Semuanya
Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya,
untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya merdeka, merdeka Tanahku negeriku yang kucinta )
Indonesia Raya merdeka, merdeka Hiduplah Indonesia Raya          ) 2x

Penutup

Membangun generasi merupakan tanggung jawab bersama, dipikulkan pada setiap orang sesuai dengan kemampuannya. Generasi yang tangguh tak hanya fisik namun yang utama kuat imannya, dekat dengan penciptanya. Pembinaan melalui bakat yang dimiliki akan menambah rasa syukur pada Sang Khalik. Meraih prestasi maksimal, sebagai dampak dari ibdahanya kepada Allah swt.

Pembinaan olimpiade matematika adalah salah satu wadahnya. Merencanakan kesulitan adalah pendekatannya. Kesulitan terencana salah satunya adalah melaksanakan ibadah secara konsisten, yaitu melaksanakan tujuh sunnah Nabi saw. Metode kerja kelompok membangun kerjasama tim dan membiasakan musyawarah. Setiap tim olimpiade adalah tim Indonesia, membawa nama baik bangsa dan berjuang untuk kebesaran Indonesia.

Selamat Hari Guru Nasional

25 November 2018

 

Usth Erna Maryati, S.Si

Leave a Reply