Passion untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat itu, akan membawa kita pada salah satu pilihan, yaitu mendedikasikan hidup menjadi seorang guru.
Maka bukan hal mustahil jika, siapapun baik itu lulusan pendidikan, maupun bukan, bisa mengambil peran dalam dunia pendidikan, yang takkan pernah tergilas posisinya oleh perkembangan teknologi sekalipun.

Jika robot masa kini punya kekuatan melebihi manusia dari sisi keteraturan, kecepatan dan ketepatan, sesungguhnya kekuatan itu pulalah yang menjadi kelemahannya. Seorang manusia dengan olah rasanya memiliki fleksibilitas dalam menghadapi sesuatu yang tingkatannya terasah bersama masalah. Manusia dengan ketidakpastiannya memiliki toleransi yang dapat menakar emosi yang diperlukan dalam berbagai situasi. Dua hal itu juga yang menjadi indikasi adanya pergerakan dan perkembangan dari mindset manusia. Mindset yang berkembang atau kita pernah mengenalnya dengan istilah growth mindset, merupakan modal penting bagi pembelajar sejati.
Pernahkah anda mengenang kembali saat-saat di mana adrenalin anda terpicu tegang oleh kompetisi yang anda hadapi?
Kompetisi macam manapun itu, contoh sederhananya dalam ruang lingkup pelajar adalah kompetisi rangking di kelas. Atau sekedar kompetisi diri sendiri meraih kelulusan di Ujian Nasional. Kompetisi adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindari bagi sebagian orang, namun juga menyenangkan bagi sebagian orang lainnya.
Dan menjadi guru, bagi saya pribadi juga adalah sebuah kompetisi untuk meraih kemenangan atas ilmu yang kita sampaikan pada anak didik kita. Sesekali kita menang, sesekali juga mungkin kita merasa kalah. Bahagia dan merasa menang, ketika anda tahu, mereka menjadi bisa karena bantuan anda. Sedih dan merasa kalah ketika mereka mengalami kegagalan.

Meski sesungguhnya, kemenangan sejati tetap kita raih tatkala kita mampu untuk terus bangkit dari kegagalan, kemudian melesat dari roket kemenangan. Dan sesungguhnya kitapun takkan pernah kalah ketika kamus menyerah tidak pernah menjadi pilihan yang kita ambil, meski ia menghadang kita dengan segala buaiannya.
Menariknya menjadi seorang guru di era digital adalah tatkala kita harus berkejaran dengan percepatan teknologi yang membawa lari anak didik kita. Banjir informasi telah mencuri perhatian dan mentransformasi cara berpikir mereka. Keberagaman media dan informasi menjadi menu sehari-hari yang secara tidak langsung mengasah kemampuan menilai dan berpikir kritis. Jika mereka memiliki kecenderungan untuk bersaing dalam hal positif, tentu kemampuan itu akan melejitkan potensi dan prestasi yang dahsyat. Akan tetapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka menjadi kerja besar dan kerja cerdas para guru untuk meluruskannya. Peran itulah yang tak mungkin tergantikan oleh komputer dan robot. Upaya untuk mengarahkan mereka tetap pada track nya juga bukan upaya yang fixed, melainkan menuntut kreativitas untuk menemukan strategi bentuk pendekatan yang paling tepat. Maka disitu pulalah posisi pembelajar seorang guru tiada henti sepanjang masa. Guru yang terus menjadi pembelajar sekaligus akan menjadi magnet bagi anak didiknya untuk menduplikasi energi positif tersebut.

 

Usth Nova Setyarina, S.Si

Leave a Reply