Leadership School 1 (LS) sudah terlaksanakan pada saat di Lembah Nyiur Puncak dalam Kegiatan “Qur’an and Characther Camp saat itu”. Pencapaian kegiatan LS 1 tersebut dikembangkan sampai dengan LS 4 . Leadership School 2 sudah terlaksana pada saat anak santri tholib dan tholibah SMA IT NFBS Bogor selesai UTS, berjalan dalam 3 hari dari tanggal 15-17 Oktober 2018. Untuk mencapai jenjang siswa perintis, atau dinyatakan lulus LS 2 jika siswa sudah memiliki konsep diri yang kuat, sehingga dapat memimpin dirinya sendiri sebagaimana tercermin dalam karakter SMART. Sehingga siswa dianggap lulus apabila memiliki kriteria yang sesuai dalam SMART. SMART merupakan visi misi sekolah yang memuat lima konsep penting dalam pengembangan karakter santri yaitu: sholeh, mushlih, cerdas, mandiri, dan terampil.

Teori Kontigensi atau Teori Tiga Dimensi. Teori ini menyatakan bahwa, ada tiga faktor yang turut berperan dalam proses perkembangan seseorang menjadi pemimpin atau tidak, yaitu : bakat kepemimpinan yang dimilikinya, pengalaman pendidikan, Leadership School yang pernah diperolehnya, dan kegiatan sendiri untuk mengembangkan bakat kepemimpinan tersebut.

Kelahiran seorang pemimpin memerlukan proses. Proses pembinaan pemimpin yang dilakukan oleh SIT Nurul Fikri mengambil dua langkah, yaitu proses alamiah dan proses melalui latihan. Target dari LS 2 ini sendiri yaitu Sma kelas 10 santri Tholib dan Tholibah, dengan para panitianya yaitu guru & anak santri kelas 11 Sma Tholib dan Tholibah sebanyak 11 orang.

Proses alamiah dilakukan melalui interaksi siswa dalam kesehariannya melalui kehidupan di sekolah, di kelas, di masjid dan lingkungan masyarakat. Mereka dikembangkan nilai-nilai kepemimpinannya melalui aktualisasi dirinya dalam bentuk pemberdayaan di organisasi santri pada level kelas, asrama, sains club, OSIS, tim bahasa, tim kedisiplinan, tim tahfidz, tim pramuka SIT, kepanitiaan serta kepengurusan lainnnya.

Adapun tujuan program pengembangan kepemimpinan siswa adalah :

  1. Menumbuhkembangkan karakter kepemimpinan pada siswa sesuai dengan jenjangnya.
  2. Memetakan potensi kepemimpinan masing-masing siswa sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya.
  3. Menyiapkan siswa untuk dapat berperan sebagai pemimpin pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan atau di masyarakat
  4. Melahirkan calon-calon pemimpin yang siap untuk memimpin Indonesia lebih baik.

Hafiah sebagai santri SMA IT Tholibah dan salah satu panitia Sekretaris sekaligus Bendahara, “Kesan menjadi panitia LS 2 in campur aduk, ada kesel, bahagia, capek, seneng, seru juga. Ada Keuntungan yang didapat dari saya sendiri yaitu seperti diingetin kembali. Tentunya nasihat-nasihat yang diberikan, bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Jika sudah lebih baik, saya bisa mengayomi adik kelas, mengatur manajemen waktu lagi dalam melaksanakan kegiatan ini, serta melatih panitia untuk tegas.”

Menurutnya juga, awal-awal mengikuti LS 2 kelas 10 SMA tholib dan tholiba ini tidak respect dengan kegiatan yang diberikan termasuk tidak respect dengan kakak kelas. Sering melanggar perjanjian, banyak ngeluh, melakukan kesalahan sama seperti yang sebelumnya. LS pembicara materi (pemilk ayam bakar wong deso), membicarakan tentang kepemimpinan mereka malah tidur, piket masih kotor, mem-manaje waktunya juga belum bisa, masih proses belajar kepemimpinan.

Setelah 3 hari berlangsung, anak santri kelas 10 SMA tholib dan tholibah sedikit demi sedikit ada perubahan yaitu lebih disiplin, peduli lingkungan. Intinya dari proses belajar yang dialami sat Leadership School 2 dalam 2 hari sebelumnya, karena banyak kesalahan tidak mematuhi aturan alhamdulillah adik kelas makin kesini makin baik. Ucap Hafiah pada saat di wawancara dan kegiatan telah berlangsung.

Kegiatan ini juga diajarkan bagaimana cara mereka solid, contohnya anak-anak santri kelas 10 SMA masak perkelompok & belanja sesuai kebutuhan cara ini di waktu oleh panitianya, dinilai dari kebersihan, cara memimpin kelompok, cara berdisukusi dengan temannya, cara belajar menyiap sajikan makanan perkelompok dimakan sendiri dan ada tamu luar yang datang untuk mencicipi masakan anak santri tersebut. (Ustzh Ghia)

Leave a Reply