Kesiapsiagaan terhadap bencana bagi warga Nurul Fikri Boarding School Bogor.

Dalam beberapa bulan terakhir jumlah kejadian bencana di Indonesia telah meningkat dan terekspos di media televisi maupun media sosial. Hal tersebut melatarbelakangi kegiatan Lokakarya dan Simulasi Evakuasi Mandiri NFBS Bogor bekerjasama dengan relawan dari Indonesian Youth on Disaster Reduce Risk (IYDRR). Pengetahuan kebencanaan harus dimiliki oleh seluruh warga NFBS Bogor, terlebih lagi saat ini dibeberapa wilayah di Indonesia masuk dalam wilayah rentan bencana.

Satu hal penting yang perlu dilakukan menurut IYDRR, yakni melakukan harmoni dengan alam dengan cara meningkatkan kapasitas atau kemampuan kita dalam menghadapi bencana agar lebih siap, tangguh dan mandiri. Karena yang menjadi faktor pengaruh terbesar keselamatan adalah karena diri sendiri. Acara ini dibuat benar-benar memberdayakan seluruh warga sekolah dengan tujuan akhir dibuatnya tim siaga bencana di sekolah yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Rangkaian acara ini diselenggarakan pada hari jumat, 12 Oktober 2018 di mulai dengan lokakarya dan pembentukan tim Siaga Bencana di Sekolah. Pada hari sabtu, 13 Oktober 2018 dilakukan lokakarya dan simulasi bencana gempa untuk santri kelas 7 dan 8. Menurut tim relawan, santri NFBS Bogor telah memiliki pengetahuan yang baik tentang bencana dan simulasi. Karena memang tentang kebencanaan sudah dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dalam mata pelajaran IPS Geografi. Harapannya paling tidak sekolah melakukan 2X simulasi bencana dalam setahun agar reflek dan respon santri dan guru terlatih.

Untuk tahun ini pengetahuan dan simulasi kebencanaan di pelopori oleh Ustadzah Ari Utami selaku guru mata pelajaran Geografi. Diharapkan kedepannya dimasukkan ke dalam kegiatan pesantren sehingga dapat menyatukan dan memberdayakan seluruh potensi warga sekolah sebagai masyarakat yang lebih berdaya dan berkapasitas dalam menghadapi bencana.

Dalam arahannya tim relawan memberikan gambaran tentang suatu peristiwa itu masuk ke dalam bencana jika sifatnya massal dan masyarakatnya butuh pertolongan dari pihak lain. Relawan juga menjelaskan bagaimana sikap kita ketika sebelum, saat dan sesudah menghadapi bencana. Untuk bencana gempa kita diminta menyiapkan Tas Siaga bencana yang berisi perlengkapan bertahan hidup untuk 3 hari. Lalu kita diminta untuk memastikan tempat yang aman disekitar kita. Jauhi tempat yang berbahaya seperti kaca, plafon, pintu dan lain sebagainya. Saat terjadinya gempa kita harus merunduk melindungi kepala, berlindung di bawah tempat yang kokoh seperti meja, serta bertahan sampai gempa selesai. Setelah terjadi gempa kita bisa melakukan evakuasi mandiri sesuai arahan guru dan tim evakuasi ke titik kumpul yang ditentukan.

Menurut salah satu santri SMP IT NFBS Bogor Tholibah, Kifabiyyah mengatakan “kegiatan simulasi sangat berkesan karena seperti kejadian sebenarnya dan sangat bermanfaat karena di NF rawan gempa agar kita lebih siap dan semua warga NF selamat dari gempa jika nanti ada gempa.”

 

Leave a Reply